MENDAYAGUNAKAN MODAL SOSIAL UNTUK REVITALISASI PERPUSTAKAAN INDONESIA


KARYA: DIMAS QATRUNNADA, SISWA SMA HARAPAN MANDIRI MEDAN

Berbicara tentang perpustakaan, yang muncul di benak sebagian orang mungkin adalah sosok sebuah gedung yang kusam dan nyaris tidak terawat dengan tumpukan buku-buku usang yang sebagian halamannya telah disantap rayap atau berwarna kecoklatan akibat dimakan usia. Sebuah tempat yang kurang nyaman tentunya, ditambah lagi dengan para pustakawan yang menggeluti pekerjaannya bukan karena kecintaan pada buku dan pengetahuan, melainkan hanya sebagai suratan keadaan yang diterima dengan setengah hati. Maka, tidaklah mengherankan bila sangat sulit menumbuhkan minat baca dan literasi di negeri yang hingga kini terus dibelit sejumlah masalah dan fakta ketertinggalan pada berbagai aspek kehidupan. Padahal, membaca dapat memperkaya wawasan untuk mencari solusi dari masalah sekaligus menciptakan sumber daya manusia unggul demi meningkatkan daya saing.

Kalau pun ada perpustakaan yang memiliki koleksi buku lengkap serta menerapkan teknologi terbaru dalam otomasi perpustakaan, digital library, akses online ke jurnal-jurnal internasional, dan mengembangkan jaringan kerja sama maupun resource sharing antar perpustakaan, kebanyakan berlokasi di perguruan tinggi ternama atau lembaga penelitian terkemuka sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara leluasa oleh seluruh lapisan masyarakat. Sementara, yang tersedia bagi masyarakat umumnya hanyalah perpustakaan seadanya yang harus dihidupi dengan anggaran sangat terbatas. Jangankan untuk menambah koleksi buku dan meningkatkan kualitas layanan, demi sekedar mencukupi biaya operasional pun, para pengelolanya kerap harus melakukan berbagai pengorbanan. Lanjutkan membaca....